Sabtu, 09 Januari 2010

si Burung Senja yang hilang















Catatan terakhir ditemukan tahun 1978


Berkik Kembang
Besar/ Greater Painted Snipe atau Rostralulla benghalensis, catatan terkhir mengenai jenis ini terakhir kalinya ditemukan di Kalimantan Tengah tahun 1978. Sejak saat itu tidak ada informasi lagi mengenai jenis tersebut. Catatan keseluruhan Berkik Kembang Besar yang dikenal dengan lokal Berekik Kipas ini di Borneo (Kalimantan, Sabah dan Serawak) baru tercatat 15 kali ditemukan (Bas Van Balen, personal komunikasi), namun secara tidak disengaja Desember tahun 2009 jenis burung ini ditemukan kembali oleh warga desa Pematang Gadung, Abdurrahman. Saat itu Abdurrahman sedang mengendari sepeda motor hendak menuju kota Ketapang, dalam perjalanan yang belum jauh meninggalkan desanya, ia melihat sepasang burung yang sedang terbang rendah, kemudian berhenti sejenak dan perhatian terfokus untuk melihat sepasang burung itu terbang dan bermain-main di areal pesawahan. Karena kecintaanya terhadap satwa-satwa yang terdapat didesanya dan kebiasaannya yang selalu membawa kamera saku, perlahan, sepasang burung yang sedang bermain-main di sawah pinggir jalan didekati, kemudian dengan sabar menunggu waktu yang tepat dan pose "nasrsis" sepasang burung tersebut, Abdurrahman berhasil mendokumentasikan sepasang burung itu dalam bingkai digital koleksi poto-poto satwa yang selama ini ia dokumentasikan. Senang dan sekaligus bangga, ketika Abdurrahman berkonsultasi ke salah seorang pakar burung yang sudah sangat terkenal di kalangan para pecinta burung, yaitu Bas Van Balen, warga Belanda yang meiliki data cukup lengkap mengenai jenis burung yang ada di INdonesia, karena berdasarkan infomasi yang didapat dari pakar burung tersebut, jenis burung yang ia berhasil dokumentasikan itu merupakan jenis burung yang catatan ilmiahnya sangat jarang sekalli. Sudah 32 tahun catatan mengenai burung ini menghilang di Kalimantan dari kalangan para pecinta burung dan ditemukan kembali pada tahun 2009 oleh Abdurrahman di Pematang Gadung, desa tempat ia tinggal.

Jumat, 08 Januari 2010

Mari Datang ke Desaku....















Hanya berjarak 30 Km dari pusat kota Ketapang dengan lama perjalanan sekitar 30 menit, kita sudah bisa sampai ke desa kecil yang suasanannya masih asri dan penduduknya yang ramah. Nama desa Pematang Gadung, diambil dari satu kisah konon di desa banyak sekali buaya yang masuk dan mengganggu penduduknya, akhirnya penduduk desa gotong royong membuat pematang (jalan yang ditinggikan) kemudian di tanami umbi-umbian yang bernama gadung, karena dipercaya aroma yang menyengat dari umbi tersebut dapat mengusir buaya. Semenjak itu, desa pun aman dari ancaman buaya.

Saat ini, desa Pematang Gadung adalah satu-satunya desa yang masih memiliki hutan yang masih alami di Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat. Hutan yang terletak di belakang kampung dan diapit oleh dua sungai besar dengan keragaman satwanya yang masih tinggi, menjadikan desa Pematang Gadung tempat yang paling asik untuk menikmati keindahan alamnya karena setiap kita jalan-jalan menyusuri sungai di hutan Pematang Gadung pasti akan melihat satwa liar yang sedang asik bermain-main di sisi kiri dan kanan hutan yang berada di tepi sungai. Bekantan, jenis burung-burung air bahkan kalau kebetulan kita bisa melihat orangutan.

Untuk Jenis burung saja terdatapat kurang lebih 220 jenis burung yang teridentifikasi di hutan Pematang Gadung, hasil identifikasi ini merupakan buah dari pengamatan yang sabar dan dilakukan secara swadaya oleh salah seorang penduduknya. Indentifikasi burung yang saat ini masih berjalan, dimaksudkan supaya penduduk desa Pematang Gadung bisa semakin mencintai desanya sendiri, bahwa banyak keragaman satwa yang terdapat di hutan desanya sangat tinggi sekali. Sehingga akan muncul kesadaran warga masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian alamnya.